← Kembali ke Cerita NuklirCerita Nuklir

Pesanan Khusus Untuk Sinta

admin · 01 Sep 2026

Pesanan Khusus Untuk Sinta

ojol_nakal

Kebosanan dan Keinginan yang Bersembunyi

Aku, Sinta, memang orangnya gak suka repot. Masak? Bikin pusing. Cuci piring? Lebih pusing lagi. Jadi ya, hampir setiap hari aku pesan antar makanan. Bukan cuma soal praktis, tapi juga soal variasi. Setiap hari bisa makan beda-beda, gak bikin bosan. Kalau pulang kerja masih sore, aku mampir ke kedai, beli makanan, makan di sana. Tapi kalau udah malem? Ya pesan antar aja. Pengalaman ini saya coba ceritakan ke penggemar NuklirTV

Di aplikasi, banyak banget pilihan. Tapi ada satu restoran yang bikin aku ketagihan. Makanannya enak banget, dan… pengantarnya juga nggak kalah menggiurkan.

Pertama kali pesan, si pengantar datang pake jaket khas, helm, masker penuh. Wajahnya tertutup, cuma matanya yang kelihatan. Hitam, tajam, kayak punya rahasia yang gak bisa aku dekati. Awalnya aku cuma ngeliat biasa aja, tapi lama-lama, sorot matanya itu bikin aku pengen tahu lebih banyak. Pengen lihat wajah aslinya, pengen tahu apakah bibirnya tipis, alisnya tebal, atau apalah.

Kedua kali pesan, aku sengaja pake celana pendek yang ketat, plus kaos besar yang sengaja aku turunin satu lengan. Jadi tali bra-ku kelihatan, plus sedikit payudara yang nyembul. Aku tahu, ini agak nge-heboh, tapi aku pengen tahu reaksinya. Pengin lihat apakah dia berani ngeliat, atau malah nahan pandang.

Pintu Terbuka, Gairah Mulai Bersemi

Ketika bel berbunyi, aku langsung buka pintu. Matanya langsung nge-lotot ke arahku. Aku bisa lihat, di balik masker, wajahnya pasti merah. Ia coba nahan pandang, tapi mata itu gak bisa bohong—terus melirik ke tubuhku, dari payudara sampe kaki.

“Kenapa cuma dilihat doang?” tanyaku, sengaja pake suara yang manis tapi nggak pol.

Ia kaget, langsung nengok ke arahku. “Ti-tidak, Non…” ucapnya, sambil garuk-garuk tengkuk, kayak gak tahu mau ngomong apa. Suaranya dalam, kasar, bikin aku merinding.

“Apa kau suka?” tanyaku lagi, sengaja turunin lengan kaosku yang satunya lagi. Sekarang payudaraku nyembul lebih jelas, tali bra-ku terlihat dengan gamblang. Aku senyum miring, tarik tangannya, dorong masuk ke dalam rumah.

“Masuk, dong. Gak apa-apa. Aku cuma pengen ngobrol sebentar.” Bohong besar.

Ia ragu, tapi aku udah gak sabar. Aku dorong dia duduk di sofa, lepas helmnya. Wajahnya… wow. Alis tebal, mata tajam, bibir tipis tapi seksi banget. Rambutnya agak acak, tapi justru bikin dia terlihat liar dan menggoda.

Aku langsung naik ke pangkuannya, hadapin dia. Kakiku di samping pinggulnya, tanganku di bahunya.

“Gak usah takut. Aku cuma pengen main-main sedikit.” Bisikku, sengaja usap pinggangku ke tangannya. Aku rasain tangannya kaku, kayak gak tahu mau ngapain.

Tangannya gak bereaksi. Aku pikir dia kaget, soalnya pelanggan kayak aku pasti jarang. Jadi aku naikin level. Aku jilat telinganya pelan-pelan. Sengat listrik.

Ia langsung nge-grip pinggangku, kayak gak mau lepas. Aku senyum simpul, lanjut jilat dan gigit telinganya. Tanganku gak diam, aku usap dada bidangnya, mainin putingnya, cubit pelan.

“Eungghh…” erangnya, suaranya serak, penuh nafsu.

Tangannya ikut bermain, mulai usap punggungku, turun ke perut, sampe payudaraku. Aku lepas baju dia, lepas bajuku. Sekarang kami setengah telanjang. Aku lihat tubuhnya—perut sixpack, dada bidang, kontol yang udah mulai ngacung.

Aku gak sabar. Aku lepas beha-ku, buang sembarangan. Payudaraku bebas, dan matanya langsung nge-lotot ke sana. Nipple-ku keras, mengundang untuk dihisap.

“Suka?” tanyaku, sengaja remas payudaraku sendiri, jari-jari ku usap pelan di sekitar puting.

Ia gak jawab, tapi tangannya langsung nge-grab susuku, remas dengan keras. Aku merasakan jari-jari besarnya menancap ke daging payudaraku, bikin aku ngeloyor.

“Aahh…” erangku, mataku terpejam, menikmati sentuhan kasarnya.

Ia mendekat, cium bibirku. Lembut dulu, tapi lama-lama semakin liar. Lidahnya ngabsen setiap gigi di mulutku, kayak mau memastikan aku merasakan semuanya. Aku nge-grip belakang kepalanya, tarik lebih dekat. Kontolnya udah keras banget, aku bisa rasain di perutku.

“Kau suka ya, Non?” bisiknya, suaranya dalam, bikin aku semakin basah.

Aku cuma senyum, gak jawab, tapi tanganku turun ke celananya, pegang kontolnya dari luar.

“Sss…” ia ngisap napas, tubuhnya tegang.

ojol_nakal2

Permainan Mulai Seru

Aku jambak rambutnya, dongak, jilat lehernya sampe ke putingnya. Aku jilat, mainin pake lidah, gigit pelan. Ia mengerang, tangannya semakin kuat mencengkeram pinggangku.

“Akh! Kurang keras, Non…” teriaknya, suaranya penuh keinginan.

Aku senyum, lihat ekspresinya—muka sange banget, matanya nyaris menutup. “Manis banget.” Bisikku.

Aku lanjut jilat, cium seluruh tubuhnya sampe ke perut. Kulitnya hangat, otot-ototnya keras di bawah lidahku. Aku buka celananya, lihat kontol besarnya ngacung ke muka aku.

Wow. Besar banget. Panjang, tebal, urat-uratnya kelihatan.

Aku senyum, turun dari pangkuannya, duduk di antara kakinya. Kontol besarnya sekarang ngadang di depan muka aku, kayak menantangku.

Aku pegang kontolnya, remas pelan. Kulitnya halus, tapi keras di dalam. “Akhh…” erangnya, pinggulnya naik turun, kayak pengen lebih.

Aku dekatkan mulut, jilat bijinya sampe ke palkon. “Ssshhh…” ia erang, badannya ngedongkol, jari-jarinya mencengkeram sofa.

Aku hisap kontolnya, mainin palkon pake lidah. Satu tangan aku pake buat mainin nipple-nya—pilin, cubit, tarik pelan. Ia semakin ngerang, tangannya tekan kepalaku.

“Aahh… Non…” erangnya, suaranya pecah, penuh hasrat.

Tangannya tekan kepalaku, kontolnya masuk semuanya ke mulutku. Aku tersedak sebentar, tapi cepat nguasain gerakannya. Aku ngeloyor kontolnya pake mulut, semakin cepat, semakin keras. Air liurku menetes, bercampur dengan cairan pra-orgasmenya.

“Aahh… kurasa… aku…” ia gak bisa ngomong, tubuhnya gemetar.

Aku manja kontolnya sampe akhirnya… putihnya keluar di mulutku. Aku telan semuanya, elus sisa-sisa di pinggir mulutku dengan jari, lalu hisap jari itu.

Ia lihat aku dari atas, matanya penuh nafsu, kayak mau memakanku. Tanpa lama, ia angkat aku kayak kapas, tunggingin di sofa. Kontol besarnya langsung tampar pantatku.

“Eemphh!” erangku, rasa sakit dan nikmat bercampur.

Ia tampar pantatku keras-keras. “Ppllaakk!!” aku berdenjit, tapi aku gak mau dia berhenti.

“Aahh…” erangku, aku remas sofa, rasain sakit yang enak.

Tangannya remas pantatku, brutal, bikin perih tapi justru bikin aku semakin basah. Dua jarinya langsung masuk ke memekku.

“Akh!” teriakku, tubuhku melengkung.

Ia bekap mulutku, jari-jarinya main di dalam. Keluar masuk, nggunting, sampe nempel di titik G-spotku.

“Aahh… aahhh…” tubuhku bergetar, melengkung ke belakang. Cairanku udah keluar, bikin basah sofa.

“Sudah basah, ya?” bisiknya, suaranya dalem banget, bikin bulu kuduk merinding.

“Enak?” tanyanya, jari-jarinya semakin cepat.

Aku cuma ngangguk, gak sanggup ngomong. Mataku terpejam, aku cuma bisa merasakan.

Ia keluarin jarinya, ganti kontol besarnya. Langsung masuk.

“Akh!” aku terkejut, kontolnya besar banget, bikin aku sesak.

Ia majuin-mundurin pinggul, bikin kontolnya semakin dalam. Aku gak mau ketinggalan, aku goyangin pantatku, berlawanan arah, bikin kontolnya semakin nempel di titik nikmatku.

“Aakkhh… aakhhh… teruss… ahahh… enakkh… ahh…” erangku, suaraku pecah, gak karuan.

Aku remas sofa keras-keras, rasain kenikmatan yang gak terduga. Kontolnya sangat enak, bikin aku ketagihan.

Ia tampar pantatku lagi, keras. Aku tahu nanti pasti merah, bopeng, tapi aku gak peduli. Yang penting… kontol dan tamparan ini sangat nikmat.

Aku julurin lidah, rasain kontolnya terus tekan titik nikmatku.

“Aahh… aahh… aahh… enaakk… iyahh…” erangku kewalahan.

Ia semakin brutal, nggenjot aku semakin keras. Cairanku keluar, tapi ia gak berhenti. Ia putar-putar kontolnya di dalam, bikin kenikmatan semakin naik.

Dari belakang, ia cium bibirku, main payudaraku, cubit nipple-ku sampe sakit.

“Emmphh…” aku gak kuat lagi, kakiku melemas, tubuhku gemetar.

Ia sadar aku udah gak kuat, jadi ia semakin kencang, semakin cepat. Sampe akhirnya… putihnya keluar di dalamku.

“Aahh… aahh… aahhh… enaakhh… aahh… teruushh… sampekhh… akhuuhh… capeekkhh… aahhhh…”

Kami orgasme bersamaan. Cairan kami campur di dalamku. Aku merasakan panasnya, bercampur dengan kenikmatan yang gak terlupakan.

ojol_nakal3

Istirahat Sejenak, Tapi Gairah Belum Padam

Aku rebahin tubuh di sofa, napasku masih tersenggal, tubuhku lemas. Ia masih di atasku, kontolnya masih keras, masih di dalamku.

“Sss…” ia ngeluarin napas panjang, pelan-pelan keluar dari dalamku.

Aku merasakan cairannya menetes keluar, bikin aku semakin basah.

Ia turun, duduk di sampingku, tangannya elus perutku, sampe ke payudaraku.

“Non…” panggilnya, suaranya lembut, tapi masih penuh nafsu.

Aku buka mata, senyum lebar. “Apa?”

“Ia senyum, mengelus rambutku yang acak. “Kau bikin aku gila, Non.”

Aku tertawa, duduk, hadapin dia. “Gila ya? Aku juga gila karena kau.”

Ia cium bibirku pelan, lidahnya masih bermain di mulutku.

“Kau mau ngantar makanan lagi besok?” tanyaku, napas masih tersenggal.

Ia senyum, elus payudaraku pelan. “Apapun maumu, pesanan kayak gini, sejauh apapun… aku pasti ngantarin, Non.”

Aku senyum, cium bibirnya pelan. “Baiklah… tapi besok, aku mau pesan yang lebih pedas.”

Ia tertawa, kontolnya udah ngacung lagi. “Siap, Non. Aku siapin menu khusus buat kau.”

Aku senyum, tanganku turun ke kontolnya, pegang pelan. “Menu apa?”

Ia bisik di telingaku, napasnya panas. “Menu all-you-can-fuck.”

Aku tertawa, gairahku bangkit lagi.

ojol_nakal4

Permainan Lanjutan – Lebih Liar, Lebih Panas

Ia dorong aku ke sofa lagi, tunggingin aku di pinggir sofa, kaki terangkat.

“Sekarang, aku yang mau mainin kau.” ucapnya, suaranya penuh perintah.

Aku senyum, tanganku pegang tepi sofa, siap.

Ia turun ke lantai, mulutnya langsung ke memekku. Lidahnya panjang, bermain di sana, kayak mau ngelap semuanya.

“Aahh…” erangku, tubuhku melengkung, pinggulku naik.

Ia jilat, hisap, gigit pelan clitorisku. Jari-jarinya masuk, keluar, bermain di dalam.

“Akh… Iman…” erangku, tanganku mencengkeram rambutnya.

Ia ngeloyor memekku pake lidah, semakin cepat, semakin keras. Aku merasakan orgasme mendekat.

“Aku… aku mau…” erangku, tubuhku gemetar.

Ia hentikan sebentar, naik ke atasku, kontolnya siap.

“Mau apa, Non?” tanyanya, suaranya penuh godaan.

“Mau kau masuk lagi…” bisikku, mataku penuh hasrat.

Ia senyum, kontolnya langsung masuk. Lebih keras, lebih dalam.

“Aahh…” erangku, tubuhku terangkat dari sofa.

Ia nggenjot aku semakin keras, tampar pantatku sambil bercinta.

“Akh… Iman… enak…” erangku, suaraku pecah.

Ia cium bibirku, sambil nggenjot. Tubuhnya penuh keringat, otot-ototnya tegang.

“Kau suka ya, Non?” bisiknya, suaranya serak.

“Suka… suka banget…” erangku, tanganku mencengkeram punggungnya.

Ia semakin cepat, semakin keras. Kami berdua semakin dekat ke puncak.

“Aku… aku mau…” erangku, tubuhku gemetar.

“Iya, Non… keluarin semuanya…” bisiknya, suaranya penuh dorongan.

Dan akhirnya… kami orgasme lagi. Bersamaan, lebih keras, lebih lama.

Penutup yang Manis (Tapi Gairah Tetap Ada)

Aku rebah di sofa, tubuhku lemas, napasku tersenggal. Ia rebah di sampingku, tangannya peluk aku erat.

“Kau bikin aku lupa segalanya, Non.” bisiknya, cium rambutku.

Aku senyum, cium dadanya. “Aku juga, Iman. Aku juga.”

Ia tertawa, elus punggungku pelan. “Besok, aku ngantar lagi ya.”

Aku senyum, cium bibirnya. “Harus.”

Ia senyum, tangannya turun ke pantatku, remas pelan. “Janji.”

Aku tertawa, tubuhku masih peka, merasakan sentuhannya.

“Baik, tapi besok aku mau yang lebih liar.”

Ia senyum, matanya berbinar. “Siap, Non. Aku siapin semuanya buat kau.”

THE END

Follow juga Halaman kami di :